Sabtu, 30 Oktober 2010

sekilas pariwisata Indonesia

diawal tahun 2010 ini Mentri Kebudayaan dan Pariwisata membuat langkah awal dalam menindaklanjuti buruknya pelayanan imigrasi di Bandara Internasional Soekarno Hatta dengan melakukan inspeksi langsung dan kembali mengaktifkan konter-konter imigrasi yang ada untuk mengoptimalkan pelayanan keimigrasian.
 
Tidak hanya itu, langkah besar telah ditempuh untuk memperbaiki kualitas pelayanan visa. mulai 1 Februari, penerbangan national flag kita, Garuda Indonesia, akan menerapkan Visa On Board!semua penumpang asing penerbangan dari Tokyo ke Bali dan Jakarta akan dapat mengurus visanya di dalam pesawat sembali menikmati kopi panas Toraja atau jajanan pasar. Luar Biasa! Ini seharusnya masuk Guiness of Record..ya atau paling tidak MURI karena inilah satu-satunya layanan Visa On Board di dunia. Dalam operasinya, passengers harus membayar biaya visa di konter bank di sebelah check in counter Garuda di Tokyo, setelah menerima receipt dan voucher untuk aplikasi visa mereka akan dilayani oleh petugas imigrasi di pesawat. Setelah turun, penumpang hanya diminta untuk menunjukkan passportnya untuk di cek.
 
Tapi jangan lupa per tanggal 26 Januari, Imigrasi Indonesia telah resmi menghapuskanVisa on Arrival 7 hari yang hanya $10. Menyedihkan, karena berarti semua turis asing (non ASEAN) harus menyediakan $25 per orang tiap berkunjung ke Indonesia. 
 
Bayangkan jika satu keluarga dari India (4 orang) yang akan berkunjung 2 hari di Batam/ Bintan melalui travel agent Batam via Singapore, yg tadinya membayar hanya $40 sekarang menjadi $100. Pukulan telak untuk teman-teman di Batam, Bintan dan bahkan...Bandung.
 
Belum lagi beberapa pekan terakhir ini pariwisata kita disibukkan karena Travel Warning dari Pemerintah Australia. Baru-baru ini, beberapa surat kabar di Australia sangat gencar menyuarakan akan warganya menunda perjalanan ke Indonesia.
 
Tentunya kita semua berharap hal-hal tersebut tudak menjadi back fire bagi pengembangan pariwisata di Indonesia mengingat negara-negara yang menjadi fokus pemasaran pariwisata umumnya adalah negara-negara non ASEAN terlebih lagi dengan daya beli wisatawan asing yang menurun akibat dampak krisis global. 

0 komentar:

Posting Komentar