Selasa, 09 November 2010

Wisata Terfavorit se-Indonesia



Survei SWA bersama Departemen Kebudayaan dan Pariwisata RI menunjukkan kota serta pelaku wisata terfavorit se-Indonesia. Siapa saja mereka?
"In the middle ages people were tourists because of their religion, whereas now they are tourists because tourism is their religion." Kalimat Robert Runcie, tokoh terkemuka Inggris Raya, ini sangat tepat untuk menggambarkan betapa dunia pariwisata tumbuh begitu pesat, bahkan seolah-olah sudah menjadi agama. Kini, berwisata menjadi suatu kebutuhan.

Dilihat secara makro, pariwisata memang telah menjadi salah satu penopang penting perekonomian banyak negara. Di Indonesia pun tampaknya akan demikian sehingga pemerintah memberikan perhatian besar. Berbagai upaya dilakukan untuk menggairahkan pariwisata. Karena itu, SWA menyambut positif kerja sama dengan Departemen Kebudayaan dan Pariwisata RI untuk menyelenggarakan Indonesia Tourism Award (ITA) 2009, penghargaan kepada pelaku wisata terbaik.

Tahun ini pemilihan pelaku wisata terbaik dilakukan melalui survei terhadap 1.625 wisatawan (lokal dan asing) di 25 kota tujuan wisata di Indonesia. Jadi jurinya adalah wisatawan. Objek yang diperingkat cukup komprehensif, mulai dari kota tujuan wisata hingga pelaku swasta seperti hotel, biro jasa tur dan travel, maskapai, resto, mal, spa, taksi dan lapangan golf. Lebih detailnya, dibagi dalam tiga kategori. Pertama, Indonesia Best Destination, diberikan kepada 10 kota terbaik. Kedua, The Most Favorite in Tourism Industry (hotel, travel, resto, mal, maskapai penerbangan, lapangan golf, spa dan taksi). Ketiga, Tourism Special Award, diberikan kepada kota-kota yang memiliki keunggulan, inovasi dan keunikan dalam pengembangan pariwisata.

Khusus kategori pertama, penentuan didasarkan pada besarnya pencapaian Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) pos kelompok Pariwisata. Untuk memilih Indonesia Best Destination digunakan dua parameter: tingkat kepuasan dan net promoter score (NPS). Kepuasan dinilai dari 9 aspek, di antaranya kebersihan dan keramahan. Adapun parameter NPS melihat seberapa besar konsumen merekomendasikan kepada pihak lain untuk mengunjungi kota tersebut. Hasilnya?

Yogyakarta patut berbangga. Baik pada indeks kepuasan maupun indeks NPS, kota ini menempati peringkat pertama. Menyusul Yogya di indeks kepuasan adalah Denpasar dan Surabaya. Sementara di indeks NPS, menyusul Denpasar dan Malang. Hasil selengkapnya bisa dilihat di Tabel.

Persaingan di segmen hotel tak kalah menarik. Grand Hyatt, Novotel dan Sheraton memimpin di atas. Ini dipandang wajar karena sebagai chain hotel terkemuka, mereka punya sistem yang baik. Akan tetapi, pemain lokal tak mau kalah. Buktinya, Sahid, Nusa Dua Beach dan Santika masuk 10 besar. Sementara itu, untuk kategori hotel nonbintang, terdapat Hotel Nikki, Made Bali, Hotel Pangeran, Hotel Narita Hotel dan Hotel Madani. Umumnya mereka merupakan hotel bintang tiga yang tak punya jaringan di kota lain, tetapi sangat kuat posisinya di kota setempat. Contohnya, Hotel Madani di Medan yang semakin bersinar karena mengusung konsep hotel syariah.

Adapun di maskapai penerbangan, Garuda Indonesia, Lion Air dan Sriwijaya Air menempati tiga peringkat atas. Mereka di atas Singapore Airlines (peringkat 8) dan Cathay Pacific (10). Ini bisa dimengerti karena mayoritas wisatawan adalah pengelana domestik sehingga tak banyak berhubungan dengan kedua maskapai itu.

Di kategori resto, pelaku yang masuk dalam lima besar adalah Jimbaran Resto, RM Ampera, KFC, Solaria dan RM Garuda. Persaingan di bisnis resto ini cukup ketat dan perbedaan skor juga tipis. Maklum, resto sangat personal sehingga masing-masing resto punya pelanggan loyal. Sementara itu, Plaza Tunjungan, Plaza Ambarukmo dan Mal Pondok Indah berada di tiga besar mal terbaik. Kemudian, Senayan Golf, Dago Resort dan Pondok Indah Golf menjadi pusat-pusat golf terbaik. Yang terbaik lainnya adalah Sari Ayu Martha Tilaar (spa), Anta Tour (biro perjalanan) dan Blue Bird (taksi).

Terpilihnya Yogya tidak mengejutkan. Bersama Bali, kota ini adalah tujuan wisata utama di Indonesia. Sektor pariwisata pun memang primadona bagi Pemkot Yogya. Seperti diakui Walikotanya, Hery Zudianto, jumlah wisatawan ke kota ini dari tahun ke tahun meningkat. Tahun 2007 wisatawan asing 100.853 orang dan domestik 1.159.805. Tahun lalu, asing 263.056 orang dan domestik 1.490.656. "Sektor pariwisata menyumbang 30% lebih untuk Pendapatan Asli Daerah (PAD)," ungkap Hery. Kalau ditinjau dari pajak daerah, sektor pariwisata menyumbang 63%.

Fakta ini sebenarnya menarik karena objek wisata Yogya sedikit. Hanya tiga yang menjadi ikon: kawasan Keraton, Malioboro dan Tugu. Lantas, mengapa dikunjungi? Penyebabnya, menurut Hery, walau mengunjungi daerah lain di seputar Yogya dan Jawa Tengah, tetapi biasanya untuk makan, menginap dan berbelanja wisatawan merasa harus di Yogya. Dan belakangan, masih kata Hery, pihaknya memfokuskan pariwisata untuk wisata pendidikan, belanja, kuliner dan nostalgia. "Banyak orang ingin ke Yogya karena pernah belajar maupun kerja di Yogya," katanya. Karena itu pula, Yogya tetap akan mempertahankan sarana transportasi becak dan andong seraya meningkatkan potensi yang sudah ada, seperti menata Malioboro dan mengembangkan Kebun Binatang Gembira Loka. Untuk itu, Hery punya harapan kualitas Bandara Adi Sucipto ditingkatkan. “Kami berharap bandara segera diperbaiki agar pesawat besar bisa mendarat langsung ke Yogya.”

Sementara itu, prestasi Bali tak perlu dibahas lagi. Di sana terdapat tak kurang 15 kawasan wisata, 226 objek wisata, 65 tempat rekreasi, 32 tempat pertunjukan wisata dan 167 usaha tirta yang bisa menjadi pilihan para wisatawan. Nyoman Wardawan, Kepala Bidang Pemasaran Dinas Pariwisata Bali, menyebutkan, di tahun 2007 saja di Bali ada 1.973 hotel, sebagian besar tersebar di Kabupaten Badung dan Denpasar. Adapun pengunjung didominasi wisatawan Jepang, disusul Australia, Taiwan, Korea Selatan dan Cina, serta Malaysia.

Bila diamati, kota-kota yang wisatanya menggeliat pesat adalah yang pemdanya serius memobilisasi sumber daya. Contohnya, Solo dan Malang. Pemkot Malang, misalnya. Untuk mengatasi keterbatasan anggaran, dilakukan promosi wisata bekerja sama dengan salah satu operator telepon seluler. Investasi juga diberi kemudahan. "Investor pariwisata yang mengurus perizinan dibebaskan dari segala jenis biaya. Yang kami seleksi hanya kelengkapan administrasi," kata Purnadi, Kepala Dinas Pendidikan dan Pariwisata Kabupaten Malang.

Di Malang, investasi pariwisata memang ditempatkan pada level tinggi dalam hal penyelesaian penanganan. Segera akan ada proyek besar Vulcano Park -- mirip Disney Land -- yang diperkirakan mulai jalan 2012. Proyek seluas 12 hektare ini sedang dalam studi kelayakan tingkat akhir dan pada Februari 2010 akan dibuka tender senilai Rp 1,5 triliun dan pertengahan 2010 mulai dibangun.

Kota Solo juga banyak berbenah. Dijelaskan Kepala Dinas Pariwisata Solo Purnomo, pihaknya membangun banyak pusat wisata baru. Setahun lalu membangun pusat wisata kuliner, Gladag Langen Bogan (Galabo). Di kawasan sepanjang 800 m ini sedikitnya terdapat 75 warung makan yang menjadi unggulan kota itu. Selain Galabo, juga ada wisata malam yang baru diluncurkan, Ngarsopuro Night Market, berlokasi di depan Pura Mangkunegaran. Konsepnya hampir sama dengan Galabo, hanya yang dijual bukan makanan, melainkan kerajinan tangan, cenderamata, garmen dan makanan kering.

Dijelaskan Purnomo, pihaknya memiliki visi menjadikan Solo sebagai kota modern dengan tetap mempertahankan tradisi. "Pembangunan Kota Solo harus bertumpu pada nilai-nilai tradisional, tanpa menghindari modernisasi," katanya. Sebab itu, restorasi bangunan kuno sengaja dikonsep sebagai daya tarik wisata. Selain merestorasi bangunan kuno, juga dibangun City Walk yang menghabiskan anggaran Rp 7,3 miliar. City Walk yang ada di Jalan Slamet ini diperuntukkan bagi mereka yang ingin menikmati Solo dengan berjalan kaki. Lalu, untuk menggairahkan kegiatan seni dan budaya, setiap tahun digelar sejumlah event, seperti Solo Batik Carnival, Solo Batik Fashion, Solo International Etnic Musik dan Solo International Perfomance Arts.

Harus diakui, kota-kota yang pariwisatanya sukses biasanya juga rajin berpromosi. Yogya, seperti dituturkan walikotanya, memiliki lembaga khusus mengelola promosi, Badan Promosi Pariwisata Kota Yogyakarta (BP2KY) yang dikelola pelaku wisata di kota itu. Anggarannya diambilkan dari pajak hotel dan restoran. Di luar BP2KY, pemda juga gencar berpromosi melalui travel dialogue, pameran, dan iklan di media. Sementara untuk menggaet turis asing, pemda juga rajin mengikuti pameran seperti baru-baru ini mengikuti MATA Fair di Spanyol.

Hal serupa dilakukan Bali. Dipaparkan Wardawan, untuk promosi, Dinas Pariwisata Bali rutin mengikuti event pameran di Berlin dan London serta roadshow ke Malaysia, Cina, Australia, India, Jepang, Singapura dan Kor-Sel, selain tetap menggarap pasar dalam negeri seperti Batam, Surabaya, Bandung, Manado dan Jawa Tengah. "Promosi juga dilakukan dengan mengundang jurnalis, tour operator maupun unsur pemerintah untuk datang ke Bali," katanya.

Dirjen Pemasaran Departemen Kebudayaan dan Pariwisata Sapta Nirwandar menjelaskan, banyak potensi wisata di Indonesia yang bisa dikembangkan, terutama wisata alam dan budaya. Bahkan, kalau alam dan budaya dipadukan, tidak ada duanya di dunia. “Coba cari Borobudur, Komodo, Tangkuban Perahu, dan banyak lagi yang unik, di tempat lain tidak ada. Potensi ini perlu dikembangkan untuk menjadi destinasi unggulan. Tapi kalau bicara regional, dalam pengertian satu daerah bakal susah,” kata Sapta.

Depbudpar membidik niche market di pasar-pasar utama. Cara mengenalkannya secara offline dan online. Misalnya, ikut kampanye di beberapa negara yang langsung ke pasar. “Kami juga membuat web, situs jejaring. Malah kami pernah mengumpulkan para bloger,” ujarnya. Pihaknya juga terus melakukan riset tren selera pasar. “Kita harus bisa memenuhi kebutuhan konsumen.”

Sapta mengungkapkan, turis yang datang ke Indonesia dari tahun ke tahun terus naik. Tahun 2008, kunjungan turis mancanegara naik menjadi 6,4 juta dari tahun 2007 (5,5 juta. Tahun 2009 ditargetkan angka yang sama dengan 2008, yakni 6,4 juta wisatawan karena situasi krisis global. Untuk menarik wisatawan lokal, Depbudpar menggunakan slogan citra ”Kenali Negerimu Cintai Negerimu”. “Semakin banyak berkunjung ke daerah, orang akan cinta pada Indonesia,” katanya. Karena itu pula, "Riset ini sangat diperlukan bagi kalangan pariwisata sebagai bahan pertimbangan untuk memajukan tempat wisatanya."

0 komentar:

Posting Komentar